27 December 2012

CATATAN HARIAN SEORANG RELAWAN (Bag.02)

Medan, 25 Januari 2005

Bandara Polonia (google.com)
Setelah terbang selama 2 jam 15 menit, roda-roda pesawat Jatayu Air menginjak landasan Bandara Polonia - Medan. Diantara kami berempat, Irfan ditunjuk menjadi amir safar selama perjalanan oleh Ustadz Sarbini. Dalam setiap perjalanan yang lebih dari satu orang, disunnahkan untuk mengangkat satu orang amir safar, inilah sunnah yang diajarkan oleh Rosululloh saw.

Tak ada seorangpun yang menjemput kami di Bandara Polonia, Medan. Dari Bandara Polonia kutelpon sahabatku, Azwar --yang kini tinggal di Lhokseumawe,setelah keluarganya terkena gempa & tsunami--. Dari Azwar kudapati informasi untuk menuju Pool Bis Gajah Mada kami bisa naik angkot dari Polonia,dengan berjalan kaki sejauh 300 meter. Sehingga kita bisa lebih hemat dibanding naik Taksi yang biayanya bisa mencapai Rp 30 ribuan.

Kami susuri jalan didepan bandara. Di pertigaan jalan kami naik angkot jurusan Taman Gajah Mada. Dan setengah jam kemudian kamipun sampai di pool bis Taman Gajah Mada. Saat itu jam menunjukan pukul satu siang. Kamipun langsung memesan tiket. Tapi sayang, bis yang menuju Bireuen semuanya penuh,hanya tersisa 2 bangku kosong. Sementara kami ada 4 orang. Akhirnya kami sepakat untuk menunda pemberangkatan untuk keesokan harinya. Tiketpun sudah kami pesan untuk pemberangkatan esok, pukul 9 pagi hari Rabu,26 Januari 2005.

Kini kami mencari tempat menginap. Kuberi saran untuk mencari masjid terdekat untuk menumpang inap. Dan alhamdulillah tidak jauh dari sana ada sebuah masjid besar yang mengijinkan kami untuk bermalam. Aku lupa nama masjidnya. Yang pasti para pengurus masjidnya sangat terbuka kepada kami yang sedang dalam perjalanan menuju Aceh sebagai relawan kemanusiaan. Hingga pada pagi harinya, setelah ba'da Subuh kami berempat diundang oleh pengurus masjid untuk menghadiri syukuran pernikahan emas (ke-50 tahun) salah seorang pengurus masjid.



26 Januari 2005

Rabu pagi yang indah menjadi pagi pertama kami di Tanah Batak. Ternyata penduduknya ramah-ramah tak seperti anggapan sebagian orang. Buktinya pagi ini kami di undang menghadiri syukuran pernikahan. Dirumah itu tersedia bubur ayam khas Medan yang lezat. Dan kami berkesempatan berbincang-bincang dengan beberapa pengurus masjid yang juga sudah menjadi relawan tsunami disaat hari-hari pertama tsunami. Banyak nasihat berharga yang kami terima. Dan disaat pulang kami dikasih sebuah amplop putih dari tuan rumah sebagai infaq untuk bekal perjalanan kami sampai Bireuen. Alhamdulillah. (mau tau isinya ? rahasia dong..hehe)

Sekitar jam 09 pagi bus Kurnia yang kami tumpangi mulai meninggalkan pool bis Gajah Mada. Melewati terminal Pinang Baris,terus berjalan menembus jalan Raya Medan - Banda Aceh. Dan mulai meninggalkan kota Medan menuju Binjai. Sebuah kota di pinggiran Medan yang terkenal dengan rambutannya. Dari Binjai, bus menuju kota Stabat, sebuah ibukota kabupaten Langkat. Meninggalkan kota Stabat dengan menyebrangi sebuah sungai besar.Sungai Wampu namanya. Buspun melewati kebun kelapa sawit yang berhektar-hektar luasnya. Sesekali melewati kota kecil seperti Tanjung Pura & Pangkalan Brandan. Akhirnya bus memasuki perbatasan Aceh.

Buspun berhenti untuk pemeriksaan penumpang. Maklum saat itu memang masih terjadi konflik bersenjata antara TNI dan GAM. Semua penumpang dalam bis wajib menunjukkan KTP. Saat aku mengeluarkan KTP, kulihat banyak penumpang lain memegang KTP selebar hampir setengah halaman kertas A4 berwarna merah-putih. Biasanya kan ukuran KTP hanya 7 x 9 cm. Saat kutanya kepada seorang ibu dia bilang itu KTP Aceh yang masih menjadi Darurat Militer. Ooo...Baru tahu..

Pemeriksaan selesai,bispun kembali melanjutkan perjalanannya. Melewati tanah rencong yang kini banyak berdiri pos TNI. Suasanya konflik memang masih terasa saat itu. Bayangkan, hampir setiap 3 km ada pos TNI.--Kini bus berhenti sebentar di sebuah restoran di Kuala Simpang untuk makan siang & sholat dzuhur.

Sekitar sejam lebih istirahat, akhirnya bis lanjut menuju Langsa,Peureulak, Idi Rayeuk dan Lhok Sukon. Sekitar pukul 7 malam bus kami memasuki kota Lhokseumawe. Bertepatan dengan berkumandangnya azan Maghrib. Kamipun heran, biasanya di Jakarta maghrib jam 6 sore, Tapi disini jam 7 masih terang dan baru waktu maghrib. Ternyata perbedaan waktu sholatnya memang sekitar 45 menit hingga 1 jam dari Jakarta.

Tepat saat azan Isya,sekitar pukul 8 malam akhirnya kami sampai juga di terminal bis Bireuen. Sebuah kota yang sederhana. Dari terminal kami naik bentor (beca motor) menuju Masjid Jami Bireuen. Karena disanalah kami akan beraktivitas sebagai relawan kemanusiaan. Memulai pengalaman baru kami di negeri Cut Nyak Dhien

Bersambung ke bagian 3

Masjid Agung Bireuen ( dok.pribadi Ahmad Yani)

Penulis bersama para santri di Asrama PuloAra (dok. pribadi)







No comments:

Post a Comment